Home News Event 1951 Estore

News

All News About Nice

BERSEKOLAH DI SMA IV JALAN BATU TEMPO DOELOE - Bung Renville Almatsier #465

BERSEKOLAH DI SMA IV JALAN BATU TEMPO DOELOE Minggu lalu, tepatnya tanggal 21 Maret 2026, sekolah kita SMA Negeri IV Jakarta merayakan ulang tahun ke-75. Menurut catatan hasil penelusuran rekan-rekan Pengurus Himals4, sekolah kita itu berdiri pada 21 Maret 1951 setelah diberlakukannya  UU No 4/1950 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan berkat desakan masyarakat kepada Parlemen dan Pemerintah. Saya sendiri baru masuk di sekolah yang tersembunyi di jalan buntu yang doeloe dikenal sebagai Gang Batoe ini, di tahun 1962. Tepat pada tahun itu sistem penjurusan dalam pendidikan tingkat SLA yang semua terbagi A (Budaya), B (Teknik/Pasti), dan C (Ekonomi) dilebur jadi   SMA Gaya Baru. Ketika naik ke Kelas II, baru kami dibagi menurut jurusan Ilmu Pasti, IPA, Sosial dan Budaya. Sebelum itu yang sudah beken sebagai SMA Bagian B adalah SMA I di Jalan Boedi Oetomo, sedangkan SMA IV adalah jagonya Bagian C sehingga terkenal dengan sebutan SMA IV/ C. Beberapa oom, tante  dan abang sepupu saya telah lebih dulu bersekolah di sini. Jaman itu menjadi semacam tradisi, semua anggota keluarga mengikut kakak atau saudaranya. Sebuah sekolah biasa menjadi sekolah keluarga. Ada teman yang tujuh orang kakak beradik menuntut ilmu di sini. Waktu itu sekolah SMA belum banyak di Jakarta. Selain SMA I Budi Utomo, ada SMA II  Jalan Gadjah Mada, SMA III Teladan di Setiabudi, SMA IV, SMA V  Budi Utomo siang dan SMA VI Bulungan Kebayoran Baru.  Di luar itu yang terkenal adalah SMA Tjikini yang dijuluki sekolah elite karena anak Presiden dan banyak anak pejabat bersekolah di situ. Selain itu ada  sekolah-sekolah swasta seperti Kolese Kanisus, van Lith serta sekolah-sekolah khusus putri St Ursula, St Maria dan St Theresia. Pada  era abang saya, saya pernah diajak ke sekolah ini. Gedung bekas peninggalan sekolah jaman Belanda ini, tua dan rada kusam meskipun terbuat dari batu. Di sekolah ini ada petinju Harry Siregar, ada judoka Rudy Senduk. Ada Josi Katoppo yang kemudian menjadi wartawan  senior Harian Sinar Harapan dan sampai kini walau tinggal di luar negeri, masih memantau kegiatan SMA IV. Tahun ajaran baru biasanya dimulai pada tanggal 1 Agustus. Pada 1962 itu sekolah Jajasan Raden Saleh (JRS), sebuah sekolah sisa peninggalan Belanda, dialihkan menjadi sekolah negeri sehingga bertambah lagi sebuah sekolah negeri, SMA VII yang berlokasi di tempat Galeri Nasional sekarang ini..  Saya memilih SMA IV selain karena  alasan “sekolah keluarga”, juga karena lokasinya tak jauh untuk ditempuh berjalan kaki atau naik sepeda dari rumah di kawasanTanah Abang. Pilihan saya ternyata ada hikmahnya. Pada hari pertama bersekolah saya gembira berkumpul sekelas dengan beberapa “kembang”  dari berbagai SMP di Jakarta. Di antara mereka, antara lain adalah Ganesja yang kini terkenal sebagai professor ahli penyakit jantung, Herdien yang menjelma menjadi insinyur pertanian, Irma yang ahli arsitektur pertamanan,  Teddy yang kemudian menjadi kapten pilot Boeing 747, dan banyak lagi. Ketua kelas kami, Eduard (Alm)  berasal SMP Frater yang terkenal di Makassar. Kebanyakan dari kami datang naik sepeda, jalan kaki, atau diantar supir. Cuma seorang yang punya sepeda motor. Bersama kami kemudian juga ada atlet-atlet yang dipersiapkan untuk pesta olahraga Ganefo seperti petinju nasional Idwan Anwar. Alhamdulillah teman-teman yang masih ada kini sudah berusia hampir 80 tahun, masih guyub sekali-sekali berkumpul. Kepala sekolah waktu itu adalah Bapak Datuk Panjang yang kemudian digantikan oleh Pak Sugito. Kelas kami terletak di ujung deretan di pinggir jalan, berbatas pagar kawat. Tanpa pintu, kelas hanya dipisahkan oleh dinding tembok setinggi 1,5 meter dan pelataran selebar tiga meter, sehingga dari dalam kelas kami bisa melongok keluar, ke jalan.  Hanya berjarak puluhan meter dari kelas kami terdapat kompleks perumahan pensiunan tentara sehingga sambil belajar kami biasa melihat ibu-ibu menggendong  dan menyuapi anak-anaknya. Pergantian waktu istirahat ditandai dengan bunyi  pukulan besi ke rongsokan velg roda truk yang bertalu-talu. Dengan kawan semua kelas, kami cepat kompak antara lain karena kami segera disibukkan dengan berlatih paduan suara. Masa itu setiap tahun upacara penurunan bendera 17 Agustus di Istana Merdeka,  selalu diisi dengan koor sore hari yang disebut aubade, para pelajar se-Jakarta di halaman Istana. Menuju ke sana, kami berbaris dari sekolah. Tentu saja sambil becanda dengan macam-macam kenakalan. Kebersamaan inilah yang membuat pertemanan makin cepat padu. Dalam waktu singkat terbina pertemanan yang akrab. Pulang sekolah biasanya kami berombongan naik sepeda sesuai daerah rumah masing-masing. Ada rombongan Tjikini, Bukit Duri, Galur, Tanah Abang, Petodjo dan lain-lain. Muara jalan Batu itu sendiri diapit di sisi kiri ada tembok pagar rendah Hotel Transaera, dan di sisi kanan oleh markas  Corps Polisi Militer (CPM) Pomdam Jaya. Biasanya, sambil menunggu teman yang belum keluar, kami duduk nongkrong di pagar hotel itu. Tak jauh di seberang jalan Merdeka Timur itu ada palang pintu rel menjelang kereta api  masuk ke Stasiun Gambir. Belum ada rel-layang.  Di balik itu, terbentang lapangan rumput yang luas. Ada lapangan bola BVC, istal kuda satuan kavaleri dan nun jauh di sana dimana kini tegak Monas, ada bekas lokasi gedung olahraga dan Stadion Ikada.  Tempat-tempat ini sering kami pakai untuk pelajaran pendidikan jasmani, atau… tempat “mengadu” kalau ada teman berkelahi satu lawan satu. Membandingkan kondisi waktu itu dengan SMA IV sekarang tentu jauh sekali. Kini, bangunannya megah beberapa lantai, kelasnya pun memakai AC. Namun yang membanggakan adalah  bahwa citra atau nama baik SMA Negeri IV, dari doeloe hingga sekarang tetap cemerlang sebagai salah satu sekolah terbaik di ibukota negara. Selamat Ulang Tahun ke-75 SMA Negeri IV Jalan Batu, Jakarta.  Semoga nama baik itu terus terjaga sepanjang masa dan membanggakan bagi kita para alumninya yang  tetap kompak dalam naungan Himals4... Bung Renville Almatsier #465         Tangsel, Maret 20269

BERSEKOLAH DI SMA IV JALAN BATU TEMPO DOELOE - Bung Renville Almatsier #465

BERSEKOLAH DI SMA IV JALAN BATU TEMPO DOELOE Minggu lalu, tepatnya tanggal 21 Maret 2026, sekolah kita SMA Negeri IV Jakarta merayakan ulang tahun ke-75. Menurut catatan hasil penelusuran rekan-rekan Pengurus Himals4, sekolah kita itu berdiri pada 21 Maret 1951 setelah diberlakukannya  UU No 4/1950 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan berkat desakan masyarakat kepada Parlemen dan Pemerintah. Saya sendiri baru masuk di sekolah yang tersembunyi di jalan buntu yang doeloe dikenal sebagai Gang Batoe ini, di tahun 1962. Tepat pada tahun itu sistem penjurusan dalam pendidikan tingkat SLA yang semua terbagi A (Budaya), B (Teknik/Pasti), dan C (Ekonomi) dilebur jadi   SMA Gaya Baru. Ketika naik ke Kelas II, baru kami dibagi menurut jurusan Ilmu Pasti, IPA, Sosial dan Budaya. Sebelum itu yang sudah beken sebagai SMA Bagian B adalah SMA I di Jalan Boedi Oetomo, sedangkan SMA IV adalah jagonya Bagian C sehingga terkenal dengan sebutan SMA IV/ C. Beberapa oom, tante  dan abang sepupu saya telah lebih dulu bersekolah di sini. Jaman itu menjadi semacam tradisi, semua anggota keluarga mengikut kakak atau saudaranya. Sebuah sekolah biasa menjadi sekolah keluarga. Ada teman yang tujuh orang kakak beradik menuntut ilmu di sini. Waktu itu sekolah SMA belum banyak di Jakarta. Selain SMA I Budi Utomo, ada SMA II  Jalan Gadjah Mada, SMA III Teladan di Setiabudi, SMA IV, SMA V  Budi Utomo siang dan SMA VI Bulungan Kebayoran Baru.  Di luar itu yang terkenal adalah SMA Tjikini yang dijuluki sekolah elite karena anak Presiden dan banyak anak pejabat bersekolah di situ. Selain itu ada  sekolah-sekolah swasta seperti Kolese Kanisus, van Lith serta sekolah-sekolah khusus putri St Ursula, St Maria dan St Theresia. Pada  era abang saya, saya pernah diajak ke sekolah ini. Gedung bekas peninggalan sekolah jaman Belanda ini, tua dan rada kusam meskipun terbuat dari batu. Di sekolah ini ada petinju Harry Siregar, ada judoka Rudy Senduk. Ada Josi Katoppo yang kemudian menjadi wartawan  senior Harian Sinar Harapan dan sampai kini walau tinggal di luar negeri, masih memantau kegiatan SMA IV. Tahun ajaran baru biasanya dimulai pada tanggal 1 Agustus. Pada 1962 itu sekolah Jajasan Raden Saleh (JRS), sebuah sekolah sisa peninggalan Belanda, dialihkan menjadi sekolah negeri sehingga bertambah lagi sebuah sekolah negeri, SMA VII yang berlokasi di tempat Galeri Nasional sekarang ini..  Saya memilih SMA IV selain karena  alasan “sekolah keluarga”, juga karena lokasinya tak jauh untuk ditempuh berjalan kaki atau naik sepeda dari rumah di kawasanTanah Abang. Pilihan saya ternyata ada hikmahnya. Pada hari pertama bersekolah saya gembira berkumpul sekelas dengan beberapa “kembang”  dari berbagai SMP di Jakarta. Di antara mereka, antara lain adalah Ganesja yang kini terkenal sebagai professor ahli penyakit jantung, Herdien yang menjelma menjadi insinyur pertanian, Irma yang ahli arsitektur pertamanan,  Teddy yang kemudian menjadi kapten pilot Boeing 747, dan banyak lagi. Ketua kelas kami, Eduard (Alm)  berasal SMP Frater yang terkenal di Makassar. Kebanyakan dari kami datang naik sepeda, jalan kaki, atau diantar supir. Cuma seorang yang punya sepeda motor. Bersama kami kemudian juga ada atlet-atlet yang dipersiapkan untuk pesta olahraga Ganefo seperti petinju nasional Idwan Anwar. Alhamdulillah teman-teman yang masih ada kini sudah berusia hampir 80 tahun, masih guyub sekali-sekali berkumpul. Kepala sekolah waktu itu adalah Bapak Datuk Panjang yang kemudian digantikan oleh Pak Sugito. Kelas kami terletak di ujung deretan di pinggir jalan, berbatas pagar kawat. Tanpa pintu, kelas hanya dipisahkan oleh dinding tembok setinggi 1,5 meter dan pelataran selebar tiga meter, sehingga dari dalam kelas kami bisa melongok keluar, ke jalan.  Hanya berjarak puluhan meter dari kelas kami terdapat kompleks perumahan pensiunan tentara sehingga sambil belajar kami biasa melihat ibu-ibu menggendong  dan menyuapi anak-anaknya. Pergantian waktu istirahat ditandai dengan bunyi  pukulan besi ke rongsokan velg roda truk yang bertalu-talu. Dengan kawan semua kelas, kami cepat kompak antara lain karena kami segera disibukkan dengan berlatih paduan suara. Masa itu setiap tahun upacara penurunan bendera 17 Agustus di Istana Merdeka,  selalu diisi dengan koor sore hari yang disebut aubade, para pelajar se-Jakarta di halaman Istana. Menuju ke sana, kami berbaris dari sekolah. Tentu saja sambil becanda dengan macam-macam kenakalan. Kebersamaan inilah yang membuat pertemanan makin cepat padu. Dalam waktu singkat terbina pertemanan yang akrab. Pulang sekolah biasanya kami berombongan naik sepeda sesuai daerah rumah masing-masing. Ada rombongan Tjikini, Bukit Duri, Galur, Tanah Abang, Petodjo dan lain-lain. Muara jalan Batu itu sendiri diapit di sisi kiri ada tembok pagar rendah Hotel Transaera, dan di sisi kanan oleh markas  Corps Polisi Militer (CPM) Pomdam Jaya. Biasanya, sambil menunggu teman yang belum keluar, kami duduk nongkrong di pagar hotel itu. Tak jauh di seberang jalan Merdeka Timur itu ada palang pintu rel menjelang kereta api  masuk ke Stasiun Gambir. Belum ada rel-layang.  Di balik itu, terbentang lapangan rumput yang luas. Ada lapangan bola BVC, istal kuda satuan kavaleri dan nun jauh di sana dimana kini tegak Monas, ada bekas lokasi gedung olahraga dan Stadion Ikada.  Tempat-tempat ini sering kami pakai untuk pelajaran pendidikan jasmani, atau… tempat “mengadu” kalau ada teman berkelahi satu lawan satu. Membandingkan kondisi waktu itu dengan SMA IV sekarang tentu jauh sekali. Kini, bangunannya megah beberapa lantai, kelasnya pun memakai AC. Namun yang membanggakan adalah  bahwa citra atau nama baik SMA Negeri IV, dari doeloe hingga sekarang tetap cemerlang sebagai salah satu sekolah terbaik di ibukota negara. Selamat Ulang Tahun ke-75 SMA Negeri IV Jalan Batu, Jakarta.  Semoga nama baik itu terus terjaga sepanjang masa dan membanggakan bagi kita para alumninya yang  tetap kompak dalam naungan Himals4... Bung Renville Almatsier #465         Tangsel, Maret 20269

Welcoming Our Sponsor

Dengan bangga kami menyambut seluruh sponsor yang telah bergabung dalam Diamond Fun Run 4 Charity! ✨🏃‍♂️🏃‍♀️ - PLN - INJOURNEY - BTN - FITBAR - ORISKIN - FTL - HYDROCOCO - BERBAGI LINK - SUMMERSALT Dukungan dan kepercayaan dari para sponsor menjadi energi besar bagi terselenggaranya acara ini. Bersama-sama, kita menghadirkan semangat kebersamaan, kepedulian sosial, serta gaya hidup sehat dalam satu langkah penuh makna. 💙 Terima kasih kepada seluruh sponsor yang telah menjadi bagian dari perjalanan spesial ini. Kehadiran Anda semua bukan hanya mendukung sebuah event, tetapi juga ikut menyalakan semangat berbagi untuk sesama. 🤝 Mari berlari bersama, berbagi bersama, dan menciptakan dampak positif bersama di Diamond Fun Run 4 Charity! #WelcomeSponsors #DiamondFunRun4Charity #RunForCharity #TogetherWeRun #EnergiKebaikan FunRunJakarta CharityRun SupportForGood

Himals4 After Run PArty (Hirup)

Besok itu bukan cuma tentang lari. Ini tentang perjalanan dari garis start, sampai akhirnya kita berdiri bareng di depan panggung HIRUP. Nyanyi lagu yang sama, dengan cerita yang beda-beda. - Ini dia LINE UP & RUNDOWN lengkapnya! Save sekarang, biar gak ketinggalan momen favorit kamu. 26 April 2026 Dateng dari awal. Pulang paling akhir.

HUT KE-75 HIMALS4 BERIKAN SANTUNAN KEPADA 1.951 ANAK YATIM HINGGA DUAFA

HUT KE-75 HIMALS4 BERIKAN SANTUNAN KEPADA 1.951 ANAK YATIM HINGGA DUAFA

TVRI - AKSI TANAM 1.000 POHON DALAM RANGKA HUT KE-80 RI

TVRI - AKSI TANAM 1.000 POHON DALAM RANGKA HUT KE-80 RI

HIMALS4 SALURKAN DONASI KEMANUSIAAN UNTUK PENYINTAS BENCANA SUMATRA Rp. 114.000.000

HIMALS4 SALURKAN DONASI KEMANUSIAAN UNTUK PENYINTAS BENCANA SUMATRA Rp. 114Juta

WARIS COFFEE DAN BAZNAS KOLABORASI HADIRKAN GERAKAN SEDEKAH BARANG DI RUANG PUBLIK

WARIS COFFEE DAN BAZNAS KOLABORASI HADIRKAN GERAKAN SEDEKAH BARANG DI RUANG PUBLIK

Diamond Cup 4 Youth, Turnamen Mini Soccer Alumni SMA Jabodebek Dimulai

KBRN, Jakarta: Turnamen mini soccer antaralumni sekolah menengah atas (SMA) se-Jabodebek pertama bertajuk Diamond Cup 4 Youth resmi diumumkan. Sejarah baru di dunia alumni SMA Jabodebek ìni diselenggarakan oleh Himpunan Alumni SMA Negeri 4 Jakarta (HIMALS4). Diamond Cup 4 Youth akan mempertemukan 24 tim alumni SMA dan SMK dari berbagai wilayah Jabodebek. Ke-24 tim tersebut kemudian dibagi ke dalam 8 grup dan saling bersaing dalam kompetisi penuh semangat dan sportivitas.

24 Tim Bersaing Jadi Juara di Turnamen Mini Soccer Diamond Cup 4

Turnamen Mini Soccer Antar Alumni SMA se-Jabodebek, bertajuk Diamond Cup 4 Youth akan digelar pada Sabtu 15 November 2025. 24 tim dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) akan bersaing menjadi yang terbaik di Pendekar Goozone CIBIS Park, Cilandak – Jakarta Selatan. Ke-24 tim ini akan bersaing dalam kompetisi penuh semangat dan sportivitas. Diamond Cup 4 Youth untuk pertama kalinya digelar oleh HIMALS4 – Himpunan Alumni SMA Negeri 4 Jakarta.